LANGKAH – LANGKAH CARA MENGGUNAKAN KAMERA ANALOG FILM
Di kesempatan ini admin akan coba membahas LANGKAH – LANGKAH CARA MENGGUNAKAN KAMERA ANALOG FILM.
Admin membahas hal ini dikarenakan masih banyak yang bertanya bagaimana cara
menggunakan kamera analog ini atau itu, terutama yang bertipe SLR.
Saran dan komentar sobat-sobat admin harapkan agar
kita bisa belajar dan diskusi bersama-sama. Sekali lagi admin tekankan bahwa
media ini bukan hanya untuk jualan, tapi terbuka bagi sobat-sobat pecinta dan
pengguna kamera analog, pemula maupun yag sudah expert untuk saling
berbagi ilmu.
Di kesempatan yang lain, admin telah
membahas cara memilih kamera analog idaman sobat:
Setelah sobat memiliki kamera analog yang pas dengan
sobat, biasanya untuk yang pemula atau yang baru pertama kali pegang kamera
analog akan bingung dan berkata
"Ini kamera gimana cara pakainya ya?" atau
"Ini kamera sama umur gue tuaan ini kamera, pakainya gimana ya?"
Apalagi kalau kameranya pemberian seseorang atau kebetulan nemu di gudang bekas
peninggalan kakek atau ayah. Gak usah bingung sobat. Berikut sedikit admin ulas
langkah-langkah menggunakan kamera analog 35mm secara umum:
Persiapan
Persiapan
- Lihat basic kontrol pada kamera. Setiap kamera analog film 35mm memiliki kontrol dasar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pertama-tama sobat harus benar-benar memperhatikan dan mengerti fungsi dari setiap kantrol dasar tersebut. Bagi yang belum memahami kontrol dasar dari kamera analog, admin telah membahasnya pada artikel dasar-dasar kamera analog.
- Shutter speed dial. Set shutter speed mengikuti kondisi cahaya. Shutter speed berfungsi untuk mengatur kecepatan film ketika terkena cahaya. Bisanya kamera analog tahun 1960 dan seterusnya akan menunjukkan shutter speed dengan angka yang semakin meningkat, seperti B, 1/125, 1/250, 1/500 dan seterusnya.
Shutter Speed kamera analog yang usianya lebih tua lagi, biasanya
menggunakan angka-angka yang lebih aneh dan sewenang-wenang letaknya. Sedangkan
letak shutter speed sendiri berbeda-beda setiap kamera analog. Secara
umum letaknya ada di sebelah kanan atas. Tapi ada juga yang menyatu dengan mounting
lensanya, seperti Olympus OM.
- Aperture Ring. Kontrol Aperture di setiap kondisi cahaya yang berbeda-beda. Aperture sendiri biasanya disebut diafragma atau bukaan, yakni bilah-bilah plat besi seperti kipas yag ada di lensa berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk melalui lensa. Untuk mengontrol aperture ini, ada ring (cincin) yang letaknya di lensa itu sendiri.
Tetapi tidak
selalu di lensa, aperture beberapa kamera analog SLR tahun 1980an dan
seterusnya sudah bisa dikontrol dari kamera itu sendiri. Contohya sistem
seperti Canon EOS tidak memiliki aperture ring sama sekali.
Umumnya aperture
ring yang ada di lensa, terletak di bagian belakang lensa atau di depan
seperti lensa Industar dari Uni Soviet dan lensa OM-sistem. Aperture ditunjukkan
dengan angka-angka seperti f/8, f/11 dan seterusnya. Semakin kecil angkanya,
semakin besar bukaannya dan sebaliknya.
- ASA Dial. Set ASA untuk untuk mendapatkan exposure yang berbeda. Pada kamera analog di tandai dengan tulisan ASA, yaitu sensitivitas film terhadap cahaya. Semakin tinggi ASA yang sobat gunakan, semakin sensitif filmnya terhadap cahaya.
Hal ini akan
berpengaruh kepada kecerahan hasil gambar yag sobat ambil. ASA sangat berguna
pada kamera analog jenis automatic exposure. Letak ASA umumnya
berdekatan dengan shutter speed dial, tapi ada juga yang terpisah di
lensanya. Pada kamera SLR 35mm, set ASA dengan mengangkat ke atas shutter
speed dial kemudian putar kanan-kiri.
ASA sangat
dipegaruhi oleh jenis film. Film yang berbebeda, membutuhkan exposure yang
berbeda pula, misalnya film ASA 50 membutuhkan 2x exposure lebih lama
dari film ASA 100. Beberapa kamera analog tidak membutuhkan ASA sama sekali,
terutama kamera yang memiliki kontak elektrik.
ASA Dial di Nikon FM2 Black
|
- Mode Dial. Mode dial ini berhubungan dengan jenis kamera analog yang sobat miliki. Apakah full manual, semi-automatic atau full automatic exposure atau automatic exposure program. Jika kamera analog sobat full manual, maka tidak ada mode yang perlu di set. Sobat hanya memainkan shutter speed, ASA dan aperture. Bila semi-automatic, maka kamera analog sobat bisa digunakan secara manual dan auto dengan ditandai huruf 'A', seperti Nikon F3.
Full automatic
exposure, set mode ke automatic exposure dengan cara
yang sama ke huruf 'A'. Maka kamera analog sobat akan secara otomatis mencari exposure
yang memungkinkan, seperti Canon AE-1.
Kemudian ada
juga kamera analog dengan mode automatic exposure program ditandai
dengan tulisan 'Program' atau 'P' pada meteringnya, yakni exposure telah
ditentukan secara otomatis oleh kamera, akan tetapi sobat masih dapat memainkan
shutter speed dan aperture ring. Hal ini memberikan keuntungan
pada sobat utuk hanya lebih berkonsentrasi penuh kepada objek, seperti Canon
AE-1 Program dan Nikon FA.
- Focusing Ring. Fokuskan lensa kamera sobat dengan melihat jarak ke objek. Pada umumnya, distance (jarak) lensa kamera analog terdiri dari feet (kaki) dan meter. Serta ada pula tanda infinity, yakni untuk memfokuskan jarak yang tak terbatas jauhnya.
Beberapa kamera
analog 35mm memiliki sistem fokus yang berbeda-beda, seperti kamera analog half
frame dan compact (Olympus Pen EE dan Olympus Trip 35) menggunakan sistem zona
yang sudah memiliki simbol.
Ada pula jenis
rangefinder (Zorki dan Fed) yang memiliki focusing ring berupa tuas di
dekat viewfinder-nya. Sistem fokusing kamera analog ini nantinya juga akan
berpengaruh kepada reflective metering untuk mendapatkan eksposur yang
berbeda-beda.
Bila sobat
paksa film/klise akan robek. Selain itu, tombol ini bisanya juga berfungsi
untuk membuat multiply exposure/double exposure. Dengan menekan tombol
ini saat pemotretan, sobat dapat memundurkan film ke frame sebelumnya.
Normalnya tombol ini berukuran kecil dan terletak di bagian bawah kamera
sejajar dengan kokangan.
Kemudian tarik
tuasnya ke atas dan cabut kaleng filmnya. Pada kamera analog bentuk tuas rewind
ini bermacam-macam. Di kamera analog SLR 35mm dan Half frame bentuknya berupa
tuas. Tapi pada kamera jenis rangefinder bentuknya seperti tongkat bulat/knob.
Beberapa kamera analog yang sudah memiliki motor seperti EOS (tahun 1995-ke
atas), tidaak memiliki tuas rewind sama sekali.
Untuk
menggulung filmnya, ada yang berupa tombol dan ada yang sudah otomatis
menggulung sendiri jika sudah habis.
|
Intinya ketika membingkai objek bidikan sobat,
usahakan membuatnya seartistik mungkin. Hal tersebut berhubungan dengan angle
(enggel). Sobat pun harus belajar mengenai hal ini. Umumnya pemula akan
menempatkan objek bidikannya di tengah-tengah (pusat) frame.
Cobalah sesuatu yang berbeda, misal menggunakan wide-angle,
membuatnya menjadi simetris, objek berada di sebelah kanan frame dan background
agak melebar ke sebelah kiri frame dan lain-lain. Bila telah mendapatkan angle
yang dirasa sudah bagus untuk framing selanjutnya jepret.
Dalam keadaan demikian kokangan jangan sobat paksa,
cek kembali jumlah frame yang sudah terpakai. Namun bila film belum habis dan
kokangan macet, itu berarti ada masalah dan harus diservis.
Bila film sudah habis, tekan tombol rewind di
bagian bawah kamera dan putar rewind crank-nya. Setelah sudah terasa
enteng, baru bagian belakamg kamera dibuka dan roll film diambil. Jangan lupa
untuk melakukannya di tempat yang teduh.
Biasanya pengguna kamera analog akan menyimpannya di
freezer lemari es. Mengenai cuci film ini, admin juga nanti akan membahasnya di
artikel lain. Datang ke tempat cuci-cetak film yang masih menerimanya. Di
Jabodetabek masih banyak tempat yang menerima jasa cuci film negatif.
Untuk film BW (black and white) dan slide memang agak
sulit menemukan yang masih memprosesnya secara tradisional, terutama untuk mendapatkan
kontras yang bagus pada film BW.
Cara mudah untuk mengecek kesalahan eksposur adalah dengan
melihat under-and over-exposure. Bila setelah dicuci dan sobat
cetak/scan ternyata hasilnya kegelapan berarti underexposure dan
sebaliknya bila keterangan berarti overexposure.
Oleh sebab itu sobat, biasanya di bagian belakang
kamera analog yang bertipe SLR 35mm selalu terdapat tempat note untuk
catatan shutter speed, aperture dan ASA yang digunakan per frame.
Ingat selalu segitiga eksposur untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Misal,
ketika motret sobat catat semua per frame dan setelah cuci-cetak hasilnya agak
gelap (underexposure) di ASA 400, shutter speed sekian dan aperture
sekian. Lain waktu sobat motret lagi di kondisi cahaya yang sama, kemudian
sobat ingat kemarin underexposure di ASA 400. Sekarang sobat turunin
jadi ASA 200, setelah dilihat hasilnya ternyata pas.
Bandingkan hasil yang satu dengan yang lainnya. Minta
pendapat kepada teman atau saudaraa mengenai foto sobat dan lihat ekspresi
mereka. Terima kasih, semoga bermanfaat!
DAFTAR PUSTAKA
http://kameraanalogantik.blogspot.co.id/2013/09/12-langkah-cara-menggunakan-kamera.html
|













Komentar
Posting Komentar